Biarkan Kami Merindu…

Rabiul Awwal, bulan kelahiran Al-Mustafa, junjungan alam pelita dunia, Rasulullah SAW. Tidaklah kita berada dalam cahaya kebaikan hari ini, kecuali karena Allah SWT mengutus manusia terbaik menyempurnakan akhlak.

Tanah Arab yang tandus dan kering menjadi saksi kelahiran Sang Nabi, ditunggu perindu kebenaran, kehadirannya membawa rahmat dan keberkahan bagi semesta alam. Ka’bah, kiblat agama tauhid seakan berbenah menyambut kedatangan pembawa risalah kenabian terakhir. Jelang kelahiran Muhammad SAW, baitullah ditakdirkan Allah SWT untuk bekerja sama dengan pasukan Ababil untuk menghalau Abrahah, panglima pasukan gajah yang kelak mati bagai ulat terpapar panas.

Nun jauh di Persia sana, di saat yang sama ketika Muhammad SAW turun ke dunia, seketika api sesembahan mati, membuat manusia penyembahnya terperangkap dalam ketakutan yang tak dipahami akal. Pendeta Nasrani yang masih terjaga kehanifannya di tengah kesesatan bangsa Rum, berikrar tanpa ragu bahwa berita kedatangan Nabi akhir zaman telah termaktub dalam Taurat.

Yatim semenjak kecil membuat kemandirian Muhammad SAW tumbuh sempurna, seperti halnya kemampuannya bertahan dalam hidup serba kekurangan, membentuk kepribadian yang tak haus akan kemilau kehidupan dunia meski kelak kemenangan demi kemenangan di raih dengan gemilang. Lisannya terjaga dari keburukan, bahasa yang digunakan adalah bahasa fasih yang jauh dari keburukan bahasa amiyah, udara yang dihirup adalah segarnya hawa gunung, semuanya Allah SWT pelihara agar kebaikan senantiasa melekat dalam pribadi agung ini.

Penjagaan lain Allah SWT kepada hamba terkasih-Nya, adalah saat dibelahnya dada Nabi, untuk dibersihkan dari segala sifat keduniawian dengan air Zam-zam, sehingga yang tersisa adalah sifat-sifat surgawi yang penuh kebaikan. Begitu banyak kisah ajaib yang mengiringi kelahiran Sang Pembawa Risalah, karena memang kehadirannya adalah rahmat untuk seluruh alam, yang dibawanya adalah kalam Illahi yang kebenarannya tak terbantahkan.

Muhammad Al-Mustafa, sedari awal hingga akhir hayatnya adalah panduan kesempurnaan akhlak dan akal, teladan terbaik cermin keselarasan kata dan laku, keseimbangan terbaik jasmani dan ruhani, penyempurna syariah, penggenap kenabian.
Kemuliaan garis keturunan dari Nabiyullah Ibrahim AS, semata-mata karena warisan iman dan keteguhan terhadap ketauhidan, bukan karena kekayaan, rupa jasmani, ataupun hal lainnya.

Biarkan kami merindumu, menyenandungkan keinginan untuk bertemu, karena boleh jadi ibadah terasa hambar tersebab seharusnya kami mencintamu lebih dari mencinta diri sendiri…