Digitalisasi Pendidikan

Dunia sedang mengalami perubahan ekstrim untuk kesekian kalinya. Pemicunya kali ini tidak lain adalah Coronavirus, dalam hal ini Covid-19. Covid-19 ini merupakan pandemi mematikan yang berdampak terhadap segala aspek kehidupan manusia. Kondisi ini memaksa proses digitalisasi menuju revolusi 4.0 berlangsung lebih cepat dari yang dibayangkan. Dari yang awalnya hanya menjadi kebutuhan sebagian kaum urban yang tinggal di kota-kota besar, digitalisasi mau tidak mau kini menjadi kebutuhan semua lapisan masyarakat.

Revolusi digital mengalami percepatan yang signifikan hampir di semua bidang kehidupan tanpa terkecuali. Karakter Covid-19 yang memaksa manusia membatasi ruang gerak aktivitas dan interaksi membuat kebiasaan-kebiasaan baru diterapkan untuk beradaptasi pada kondisi yang tengah berkembang.

Begitu pun bidang Pendidikan. Para penggiat di bidang Pendidikan dipaksa mengadopsi metode digital dalam pelaksanaan prosesnya. Padahal untuk memahami konsep baru Merdeka Belajar yang digagas oleh Menteri Pendidikan, Nadiem Makarim baru-baru ini pun masih banyak yang mengerutkan dahi tak mengerti. Karena memang membutuhkan banyak waktu untuk proses sosialisasinya agar dapat terlaksana di seluruh pelosok negeri.

Pendidikan tak boleh kehilangan ruh sebagai suluh, tak bergantung pada cara dan metode yang mungkin dapat berubah sesuai perkembangan zaman. Artinya, digitalisasi pendidikan harus ditanggapi positif oleh semua pihak, guru dan siswa bergerak, orang tua juga tergerak dan memahami bahwa anak-anaknya saat ini sedang menghadapi zaman yang berbeda. Karena ke depan, mereka akan bersaing dengan generasi-generasi baru dari segala penjuru dunia yang terdigitalisasi, dan sekolah harus mengambil peran menjadi mesin penggerak perubahan.

Digitalisasi harus membuat guru semakin kreatif merancang proses pembelajaran, karena siswa diberi pilihan yang hampir tak berbatas. Guru juga tak boleh tenggelam dalam arus mengurus content, sehingga lupa context. Seakan berlelah dalam kulit, hingga lupa mengolah substansinya.

Di era ini, kompentensi guru harus bertambah. Tak hanya menjadi sebatas guru, tapi juga menjadi pelatih handal yang memahami kebutuhan siswa dan mampu mengembangkan  potensi siswa agar optimal menghadapi masa depan yang tak pernah pasti. Sekolah harus menjadi wadah yang memfasilitasi berbagai arus kepentingan, agar atmosfer pendidikan tetap terjaga dalam letupan semangat “Mencerdaskan Anak Bangsa”.

Digitalisasi adalah keniscayaan, tak dapat ditolak. Namun Pendidikan tak boleh dikomersilkan. Karena jika begitu adanya, keberkahan ilmu akan hilang ditelan modernitas yang mengarah pada pemahaman yang keliru. Digitalisasi memang tak terhindarkan, tapi seyogyanya tak boleh mematikan fungsi. Pendidikan tetap harus mencerdaskan, membentuk karakter, dan yang paling penting memanusiakan manusia.