Edutrip, Sarana Belajar Edukatif di luar Sekolah

Dimasa sekarang, hampir seluruh siswa di Indonesia harus belajar dari rumah untuk menghindari penyebaran virus covid-19. Padahal sejatinya, pembelajaran itu bisa dilakukan dimana pun. Tidak hanya terbatas ruang kelas, area sekitar sekolah, atau rumah saja, namun bisa dilakukan dimana pun. Maka dari itu, pada kegiatan “Fun Edutrip” kali ini kami memutuskan untuk melaksanakannya secara luring untuk memberikan pengalaman dan pembelajaran secara langsung terhadap siswa, karena pengalaman adalah guru yang terbaik. Itulah mengapa kami mengangkat tema “Experience is the best teacher for our life” pada kegiatan Edutrip kali ini.

Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Rabu, 7 April 2021 yang diikuti oleh siswa kelas 1 Abu Bakar Ash-Shiddiq dan kelas 2 Al-Biruni di SD Islam Al-Azhar Cairo Bandung. Pada kegiatan “Fun Edutrip” kali ini, kami mengunjungi salah satu pusat permainan tradisional Indonesia yang ada di Bandung, yaitu Komunitas Hong. Disini anak-anak dikenalkan dengan berbagai macam permainan tradisional khas sunda yang biasa ditemukan di lingkungan masyarakat Jawa Barat.

Bagi yang terlahir di tahun 1970 hingga 1990-an pasti sudah tidak asing lagi dengan berbagai permainan tradisional tersebut, berbeda dengan anak yang lahir tahun 2000an yang banyak diantaranya sudah tidak mengenal permainan tradisional karena tergantikan dengan permainan modern seperti games. Maka dari itu “Komunitas Hong” ini dirasa menjadi pilihan tempat yang paling sesuai untuk memberikan pembelajaran dan pengalaman baru pada anak terkait permainan tradisional.

Pagi itu anak-anak sudah bersiap dan berkumpul di sekolah dari pukul 07.00 WIB. Mereka semua berbaris sesuai dengan kelasnya masing-masing dan mulai mengecek perlengkapan yang harus dibawa dibantu oleh wali kelasnya masing-masing. Tak lupa protokol kesehatan yang juga di cek sebagai prasyarat utama dalam melakukan kegiatan di luar pada masa pandemi ini. Terlihat wajah-wajah antusias anak-anak yang tidak sabar ingin segera berangkat ke lokasi tujuan. Pukul 08.00 WIB mereka akhirnya berangkat ke lokasi tujuan dengan menggunakan bus. Perjalanan memakan waktu sekitar satu setengah jam untuk tiba di lokasi yang berada di daerah Dago itu.

Dalam perjalanan, anak-anak sarapan lalu bernyanyi lagu-lagu anak dan bercanda gurau bersama teman-temannya. Akhirnya pukul 09.30 WIB mereka sampai di lokasi tujuan yang telah di tunggu-tunggu. Disana anak-anak dikenalkan dengan banyak sekali permainan tradisional khas sunda. Ada gasing, sarung balon, perepet jengkol, dan lain sebagainya. Anak-anak juga disana belajar membuat ikat kepala khas masyarakat sunda. Selain itu, anak-anak juga belajar membuat mainan keris-kerisan dari daun kelapa. Ada 10 lebih permainan dan kegiatan yang telah mereka pelajari bersama.

Kegiatan ini merupakan pengalaman yang baru bagi mereka, terutama dalam mengenal permainan tradisional yang sebelumnya belum mereka kenal sama sekali. Terlihat wajah-wajah antusias anak-anak dalam mengikuti kegiatan demi kegiatan tersebut. Kegiatan berakhir pukul 12.00 dan ditutup dengan makan siang bersama dan shalat Dzuhur berjamaah di lokasi. Pukul 15.30 WIB mereka sudah tiba kembali di sekolah dengan membawa oleh-oleh mainan keris-kerisan yang tadi di buat sendiri disana. Selain itu, anak-anak juga membawa pulang oleh-oleh pengalaman berharga yang sudah mereka pelajari bersama disana untuk bisa diceritakan kembali ke teman-teman atau keluarganya. Itulah mengapa edutrip ini menjadi sarana belajar edukatif yang bisa dilakukan anak di luar sekolah.