Memaknai dan Mengisi Kemerdekaan di Era Digital

Tahun ini adalah tahun kedua Indonesia merayakan kemerdekaan dalam kondisi pandemi Covid-19. Banyak agenda yang biasanya dilakukan saat memperingati HUT RI menjadi tidak lagi pas dilakukan saat ini, bahkan dilarang untuk digelar oleh aparat pemerintah baik pusat maupun daerah.

Perayaan hari kemerdekaan dilakukan di banyak tempat. Tidak hanya di negeri kita, tapi juga dilakukan di banyak negara yang identik dengan pesta rakyat. Semua kalangan berbaur dalam pesta pora, hanyut dalam kegembiraan, merayakan kebebasan.

Tapi karena pandemi melanda hampir seluruh penjuru dunia termasuk juga Indonesia, kegiatan yang melibatkan orang banyak dan menimbulkan kerumunan menjadi aktivitas yang terlarang, setidaknya dibatasi dengan aturan yang ketat dan mengikat.

Memperingati VS Merayakan

Memperingati dan merayakan tentu beda makna. Dalam konteks HUT RI, peringatan HUT RI identik dengan acara yang formal dan bernuansa serius, contohnya: upacara bendera, tabur bunga di pusara para pahlawan, mengheningkan cipta di berbagai tempat secara serempak, ataupun kegiatan lain yang sejenis.

Sedangkan merayakan lebih bersifat non formal, kegiatannya lebih bernuansa hiburan, dengan tujuan memeriahkan momen yang datang satu tahun sekali. Pesta rakyat dan pentas kreasi seni biasanya digelar sebagai acara utama di berbagai tempat di seantero negeri.

Meski tidak ada yang salah dengan merayakan–sebagai ungkap syukur atas nikmat kemerdekaan yang dianugerahkan oleh Allah SWT–, namun tentu akan lebih bernilai jika rasa syukur ini diisi dengan kegiatan yang lebih bermanfaat.

Para pahlawan yang rela berjuang mempertaruhkan jiwa dan raganya di medan tempur melawan penjajah, tentu berharap pada kita sebagai pewaris negeri untuk bisa mengisi kemerdekaan dengan karya-karya terbaik sehingga Indonesia dapat berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia.

Pandemi Covid-19, memaksa kita merekonstruksi cara untuk mengisi momen HUT RI tahun ini yang menginjak tahun ke-76 Indonesia merdeka dengan cara yang berbeda. Jika biasanya kita bisa melaksanakan peringatan dan perayaan secara bersamaan, meski harus diakui lebih kental acara merayakan dibanding memperingati, tahun ini kita dipaksa hanya melakukan peringatan, dan membatasi perayaan.

Namun demikian, justru tahun ini seharusnya bisa menjadi momentum penting. Bangsa Indonesia dituntut mampu menempatkan peringatan kemerdekaan HUT RI, sebagai momentum untuk merenungi maknanya lebih dalam ketimbang terus merayakan dengan kegiatan hura-hura, tanpa mendapatkan pelajaran apapun yang terkandung di dalamnya.

Kemerdekaan dan Nasionalisme

Pelajaran penting dari momen kemerdekaan seharusnya adalah memunculkan rasa nasionalisme yang kental, meminggirkan keinginan pribadi dan kelompok untuk kemudian mengutamakan kepentingan bangsa dan negara. Inilah yang harus terus ditanamkan agar marwah kita sebagai bangsa yang berdaulat tetap dapat dipertahankan sampai kapan jua.

Kemerdekaan yang telah dibayar mahal dengan gugurnya jutaan jiwa putra-putri terbaik di masa lalu, harus menjadi pelajaran penting agar tidak lagi terjadi di masa kini dan yang akan datang. Rasa nasionalisme serta senasib dan sepenanggungan sesama anak bangsa inilah yang dahulu  memantik para pahlawan pejuang kemerdekaan tegak berdiri meneriakkan slogan: merdeka atau mati.

Makna Kemerdekaan di Era 4.0

Dunia berubah begitu cepat, terlebih dengan terjadinya pandemi Covid-19. Digitalisasi di hampir semua lini kehidupan semakin menegaskan globalisasi memang tak terhindarkan dan memaksa kita untuk beradaptasi lebih cepat merespon kondisi yang terjadi.

Bangsa Indonesia pun mengalami hal yang sama dengan bangsa lain di seluruh dunia, dipaksa mengglobal beradaptasi dengan proses digitalisasi. Apakah kita sudah siap? Tentu ini bukan tentang siap atau tidak siap, karena meski kita tidak siap pun arus perubahan akan tetap menenggelamkan siapa saja yang tak bersiap menyambutnya.

Usia ke-76 saat ini tentu harus dimaknai oleh seluruh bangsa Indonesia sebagai usia yang cukup untuk merespon keadaan yang terjadi dengan tindakan-tindakan yang mencerminkan kedewasaan berpikir dan bertindak terutama dari para aparat penyelenggara negara.

Kemerdekaan tidak boleh lagi diartikan sempit hanya terbebas dari penjajahan secara fisik saja, tapi lebih dari itu kita harus terbebas dari segala bentuk penjajahan, dan dari entitas apapun yang bermaksud untuk merampas hak dasar manusia untuk hidup dan berkehidupan yang layak.

Boleh jadi di era 4.0 ini, penjajahan telah berubah wajah menjadi penjajahan akan penguasaan akses data kita baik sebagai individu atau sebagai bagian dari warga negara. Atau mungkin penjajahan bentuk baru nya adalah ketidakberdayaan kita akan terjangkitnya varian penyakit baru yang memaksa kita bergantung pada sumber daya yang dimiliki oleh negara lain, seperti pandemi Covid-19 saat ini.

Maka cara kita memaknai kemerdekaan pun harus kita ubah, agar kebebasan yang sudah dengan susah payah para pendahulu kita usahakan tidak hilang begitu saja karena keengganan kita untuk terus belajar, dan bahkan tenggelam menikmati kemerdekaan dengan cara yang tak faedah sama sekali.

Salah satu pelajaran penting dari pandemi Covid-19 adalah percepatan proses globalisasi dan digitalisasi dalam banyak bidang kehidupan. Indonesia harus segera berbenah untuk menyambut proses perubahan yang tak terelakkan ini dan generasi muda sebagai pewaris negeri ini punya tanggung jawab besar mempersiapkan diri sebaik mungkin agar bisa bersaing di skala lokal maupun global.

Peringatan ulang tahun Republik Indonesia tahun ini mengambil tema: “Indonesia Tangguh, Indonesia Tumbuh”. Pengambilan diksi ini meskipun pendek namun penuh makna, karena tangguh adalah alat untuk tumbuh dan tumbuh akan membuat kita menjadi tangguh pada kondisi perubahan yang ekstrim seperti saat ini dan mungkin ke depannya. Generasi muda pewaris negeri harus menjadi generasi tangguh, sehingga negeri ini akan terus tumbuh menjadi negara yang kuat, adil dan makmur.