Simplifikasi Pendidikan Karakter, Mungkinkah?

Pandemi Covid-19 menantang kita untuk menata ulang banyak hal, termasuk diantaranya bidang Pendidikan yang sejatinya tak boleh berhenti apapun rintangan yang dihadapi. Proses pendidikan harus terus berjalan, karena belajar adalah kunci untuk menjawab tantangan zaman itu sendiri. Dengan belajar, manusia akan melakukan percepatan, alih-alih berkutat dalam kelembaman dan tenggelam dalam ketidakpastian.

Percepatan menjadi kata kunci agar proses adaptasi kebiasaan baru akibat gelombang pandemi ini dapat diimplementasikan supaya tercipta generasi yang kompetitif dan tanggap akan perubahan. Ada 3 (tiga) aspek penting yang menjadi sasaran perubahan dalam Pendidikan yaitu: kognitif (pengetahuan); afektif (sikap); dan psikomotorik (keterampilan). Harapannya, ketiga aspek tersebut dapat muncul bersamaan setelah guru selesai mengajar dan murid selesai belajar.

Di masa pandemi sekarang ini, proses penyampaian dan perubahan pada aspek kognitif dan psikomotorik tetap dapat berlangsung bahkan dapat ‘dipaksa’ dipercepat dengan berbagai pendekatan dan strategi kontemporer yang lebih efektif dan efisien. Namun, lain halnya dengan aspek afektif yang kiranya perlu usaha ekstra dari para guru agar penanaman karakter tetap dapat dilaksanakan, terlebih agar memberikan dampak jangka panjang pada kehidupan peserta didik. Inilah tantangan sesungguhnya untuk para pendidik, dapatkah keseimbangan 3 aspek ini tetap dapat dicapai? Karena bahkan dengan pertemuan langsung pun rasanya masih belum optimal.

Saat ini, siswa yang sedang dalam usia belajar lebih dikenal dengan generasi milenial, yang notabene sejak dini sudah dikenalkan dengan berbagai kecanggihan teknologi. Generasi ini dapat belajar dengan berbagai media, termasuk belajar berperilaku dari sebaran foto/video yang berasal dari para influencer dan bintang media sosial. Karena itu, maka perlu kiranya dicoba cara yang lebih kreatif dalam menanamkan nilai afektif, salah satunya dengan membuat konten digital yang memuat pesan ringkas namun memiliki makna yang mendalam.

Tim pengajar di Sekolah Islam Al-Azhar Cairo Bandung berinisiatif membuat konten digital tentang penanaman pembiasaan baik, yang dikenal dengan 5S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan dan Santun) dan juga 7 Habits (Tahajud, Shaum Sunnah, Tilawah, Infaq, Menjaga Wudhu, dan Shalat wajib berjamaah di masjid).

Konten ini dibuat sebagai jawaban dari tantangan pembelajaran yang terkendala kondisi pandemi pada saat ini. Mungkin pesan yang akan disampaikan ini tidak akan langsung dibaca, melihat menumpuknya informasi di ruang publik. Namun karena hal ini datang dari hati yang ingin memberikan pelayanan terbaik untuk seluruh siswa, tentunya kami berharap tetap akan ada dampak positif meski tidak langsung.

Kami meyakini jika pesan ini sampai, maka akan menjadi mood booster yang luar biasa. Bisa jadi hanya sepatah kata, namun dapat merubah asa. Penanaman karakter mungkin tidak sesederhana itu, tapi tak ada salahnya untuk dicoba, paling tidak akan menjadi secercah cahaya dibalik gelapnya semesta yang sedang dilingkupi ketidakpastian karena pandemi yang entah kapan akan berakhir.

Sesungguhnya ilmu itu berasal dari Allah, seperti halnya hidayah adalah milik Allah. Sekuat apapun manusia berusaha, hasilnya akan kembali pada qadr-Nya. Wallahu a’lam.